Menakar efektivitas kereta bandara Minangkabau

2018-03-13 13:54:53     -     Afnilmahfuzi   |     View : 36
  No Image

Padang, (Antaranews Sumbar) - Pernahkah anda mengalami situasi diburu waktu mengejar jadwal penerbangan ke bandara sementara lalu lintas yang dihadapi macet parah sehingga akhirnya ditinggal pesawat?.

Pengalaman pahit ditinggal pesawat itu masih berbekas bagi Hanif salah seorang warga Padang, Sumatera Barat yang akhirnya membuat ia harus merogoh kocek lebih besar karena tiketnya hangus.

Kala itu pada November 2017 ia hendak berangkat ke Jakarta dari Bandara Internasional Minangkabau pada pukul 13.00 WIB untuk mengikuti pelatihan.

Karena saat itu akhir pekan, ia berpikir lalu lintas akan lancar apalagi selama ini Padang belum terlalu macet.

Oleh sebab itu ia pun berangkat dari rumahnya di Mata Air, Kecamatan Padang Selatan pada pukul 11.00 WIB dengan asumsi pada pukul 11.45 WIB telah sampai dengan jarak tempuh sekitar 25 kilometer.

Namun dugaannya meleset, selepas jalan S Parman memasuki Jalan Hamka lalu lintas benar-benar macet parah. Tak tanggung-tanggung dalam waktu 30 menit mobilnya hanya bergerak 100 meter.

Memang di jalan Hamka tersebut ada sejumlah pemicu kemacetan antara lain karena banyaknya angkutan antar kota yang mangkal menunggu penumpang hingga kehadiran salah satu mall.

Namun hari itu macetnya luar biasa dan usut punya usut ada acara wisuda di salah satu kampus yang ada di kawasan itu.

Saat ia hendak memutar kendaraan mencari jalan alternatif juga sudah tidak memungkinkan karena mobilnya terjebak.

Akhirnya dengan perasaan berkecamuk dan campur aduk ia baru sampai di bandara pukul 12.50 WIB.

"Saya sudah pasrah, kalau memang tidak bisa lagi ya beli tiket baru," kenangnya.

Karena memang sudah terlambat Hanif pun terpaksa harus membeli tiket baru dan pengalaman pahit tersebut memberinya pelajaran agar berangkat lebih awal jika hendak bepergian menggunakan pesawat udara.

Selama ini akses menuju Bandara Internasional Minangkabau dari pusat kota Padang hanya ada dua jalur yaitu jalan Hamka dan Jalan Bypass. Artinya jika salah satunya mengalami masalah hanya ada satu jalan alternatif.

Menyikapi hal itu muncul solusi yaitu memanfaatkan kereta api yang jalurnya lebih terjamin. Setelah memakan waktu cukup panjang mulai dari pembangunan rel, akhirnya pada 21 Februari 2018 kereta api yang akan dioperasikan menuju Bandara Internasional Minangkabau tiba di Padang, diangkut menggunakan kapal Dewa Samudera Abadi dari Jakarta.

Empat unit kereta yang tiba terdiri atas dua gerbong dan dua lokomotif kereta api Railbus.

Kereta tersebut dimuat melalui rel dari madiun menuju Jakarta dan dibongkar di Tanjung Priok, kemudian dinaikkan ke kapal dan proses bongkar di Teluk Bayur memakan waktu dua hari.

Setelah proses bongkar di Pelabuhan Teluk Bayur selesai kereta langsung dikirim ke depo Simpang Haru Padang.

Kereta yang diberi nama Minangkabau Ekspres tersebut terdiri dari dua gerbong dan dua lokomotif dengan kapasitas angkut normal sesuai jumlah tempat duduk 393 penumpang.

Namun pada uji coba perdana Kereta Api (KA) Bandara Minangkabau Ekspres dari Stasiun Simpang Haru mengalami kendala karena tangga kereta tersangkut di peron Stasiun Air Tawar.

Menurut Humas PT KAI Divre Sumbar Zainir solusi yang akan diambil sementara adalah memotong sebagian tangga kereta api agar bisa melewati peron di Stasiun Air Tawar.

"Setelah pemotongan tangga itu, akan dilakukan uji coba ulang," kata dia.

Mudah Diakses

Pengamat transportasi publik Universitas Andalas (Unand) Padang Yossyafra Phd menilai pengoperasian kereta api ke Bandara Internasional Minangkabau akan efektif jika akses menuju stasiun lebih mudah dan lebih banyak tempat pemberhentian.

"Adanya moda angkutan alternatif yaitu kereta api ke bandara merupakan hal yang baik dilihat dari sistem transportasi publik karena memberikan pilihan bagi calon penumpang, namun syaratnya harus mudah diakses," katanya.

Menurutnya kereta api memiliki beberapa kelebihan diantaranya jadwal keberangkatan yang lebih pasti, keberadaanya terjamin dan frekuensi lebih teratur.

Oleh sebab itu untuk meningkatkan jumlah pengguna dapat dilakukan dengan memberikan akses yang tinggi dan luas kepada calon pengguna kereta api untuk mencapai stasiun.

Hal itu dapat dilakukan dengan memperpanjang rute operasi dan memperbanyak titik temu dengan moda angkutan lainnya dengan kereta api, seperti angkutan umum, trans padang, taksi, ojek dan lainnya, kata dia.

Ia menyarankan kereta api bandara agar lebih efektif dapat dioperasikan mulai dari Pulau Air kemudian juga singgah di Lapai, Basko, dan Tabing.

Perpanjangan rute sampai Pulau Air ini bertujuan mengambil potensi penumpang dari daerah selatan Padang dan Pesisir Selatan sehingga penumpang akan semakin banyak, katanya.

Untuk itu ia menyarankan perlu perencanaan yg komprehensif dari sisi operasional dan marketing oleh pihak KAI.

Kemudian, hal lain juga yang harus ditingkatkan oleh PT KAI, sebagai operator adalah mempromosikan kelebihan penggunaan KA Bandara agar masyarakat tertarik menggunakannya.

Selain itu harus ada sinergi dengan pemangku kepentingan terkait agar stasiun lebih mudah diakses lewat pengaturan rute angkutan umum .

Pada sisi lain ia juga menyarankan harga tiket kereta bandara harus kompetitif agar bisa bersaing dengan moda lainnya.

Saat ini jika masyarakat menggunakan taksi dari pusat kota ke bandara ongkosnya sekitar Rp120 ribu, jika bertiga tentu masing-masing orang kena Rp40 ribu, maka harga tiket kereta harus dibawah itu agar bisa bersaing.

Tidak hanya itu PT KAI juga harus memastikan pengguna nyaman saat menaiki kereta bandara sehingga bisa menjadi pilihan.

Terkait tarif yang akan diberlakukan Kepala Dinas Perhubungan Sumbar Amran mengatakan masih dalam perhitungan dan baru akan diumumkan saat mulai beroperasi sekitar April atau Mei 2018.

"Tarifnya disubsidi pemerintah, tetapi besarannya belum jelas karena masih dihitung pihak terkait," katanya.

Menurutnya harga tiket bisa lebih mahal atau lebih murah dari tiket KA Sibinuang yang melayani Padang-Pariaman, tergantung perhitungan keekonomian.

Dengan segera beroperasi kereta setidaknya hadir pilihan alternatif bagi masyarakat yang hendak bepergian ke bandara.




© 2016 Website JDIH
Provinsi Sumatera Barat. Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum
Konsultan IT - Team eGovernment Provinsi Sumatera Barat